Kumpulan Cerpen Untuk Hari Guru (Kaskuser)

watch_later Rabu, 22 November 2017
Kumpulan Cerpen Untuk Hari Guru (Kaskuser)

Kumpulan Cerpen Untuk Hari Guru (Kaskuser) - Halo para netizen, Apakah kalian para pelajar yang teladan? Para kesempatan kali ini saya akan membagikan berbagai macam cerita pendek atau yang biasa disebut Cerpen untuk memperingati hari guru yang diperingati tanggal 25 November. Pada awalnya ini saya akan membagikan 3 cerpen saja yang besumber dari kaskuser. Kalau mau updatenya tolong komentar dibawah ya. So langsung saja cek dibawah ini untuk cerpen hari guru:

Cerpen Spesial Hari Guru

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Motivator Tak Terduga [Cerpen COC]
Tema: Semua berkatmu
oleh someshitness

Jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Uh, rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur dan berangkat ke sekolah. Rabas, siswa kelas 12 SMA, yang sekarang sedang menghadapi tugas akhir demi tiket untuk ikut Ujian Nasional. Karya tulis. Demi apapun, ia sangat benci tugas ini. Rabas anaknya memang pemalas dan tak begitu pintar. Goblok kasarnya. Saat teman-temannya sudah selesai, ia baru menentukan judul. Padahal deadline-nya tinggal seminggu dan ia benar-benar merasa frustasi.

Ini semua karena Pak Dal. Ya, Pak Dal itu guru pembimbing untuk karya tulisnya, sekaligus guru yang paling dibencinya. Sebenarnya Pak Dal orangnya bersahaja, namun tegas dan tak segan mengolok-olok muridnya di depan umum.

Semua ini berawal dari suatu hari yang buruk itu.

***

“Hei Rabas! Kenapa kamu tengok-tengok ke belakang? Kamu mau nyontek ya?” bentak Pak Dal pada Rabas saat ulangan sosiologi.

“Enggak, Pak. Saya cuma mau pinjam tipex ke Sade, Pak,” kata Rabas asal.

“Alasan saja kamu. Mana jawabanmu? Sini, berikan ke saya!”

Tanpa babibu Pak Dal menyobek-nyobek lembar jawaban Rabas lalu melemparkan sobekan-sobekan ke muka Rabas. Sungguh dramatis. Rabas hanya bisa melongo melihat kejadian yang baru saja terjadi. Teman-temannya hanya bisa diam membisu.

“Pak, kenapa, jawaban saya, disobek-sobek, Pak?” ujar Rabas gagap.

“Saya lebih menghargai nilai jelek daripada kecurangan yang kamu buat!” tegas Pak Dal.

“Tapi kan saya cuma mau pinjam tipex, apa itu seuatu yang salah?” Rabas sedikit berteriak.

“Pinjam tipex? Kan ini LJK, Lembar Jawab Komputer, ngerjainnya pakai pensil 2B! Kenapa kamu harus pinjam tipex? Kamu bodoh atau tolol? Sekarang apalagi alasanmu?” kata Pak Dal dengan lantang.

Rabas hanya bisa tertunduk. Dipermalukan di depan kelas apalagi saat ulangan itu sangat menyakitkan. Ia menyimpan dendam pada guru sosiologinya itu.

“Silakan keluar. Kamu remidi besok. Siapkan tipex-mu sendiri.”

Rabas keluar kelas dengan membanting pintu. Pak Dal menatapnya dengan pandangan tegas. Senyum tipis mengembang di bibirnya.

Rabas sangat buruk dalam pelajaran sosiologi. Nilainya tak pernah sepenuhnya memuaskan dibanding dengan mapel lain, walaupun sama parahnya. Tapi sosiologinya begitu parah. Naas benar, saat guru sosiologinya itu Pak Dal, 3 tahun berturut-turut. Walau menyontek menjadi kegemarannya, tapi khusus sosiologi, ia tak berani. Entah kenapa hari ini. Ia benci keadaan, benci semesta.

***

Rabas berangkat sekolah dengan tergesa-gesa karena arlojinya menunjukkan pukul 7 kurang 15, sehingga ia tak sempat sarapan. Sebenarnya, ini merupakan hal yang biasa terjadi. Untung ia bisa sampai sekolah pas bel masuk berbunyi. Setelah memarkirkan vespa-nya, ia segera menuju ke kelas.

Sial, jam pertama pelajarannya Pak Dal, pikirnya dalam hati. Langkahnya yang semula cepat berubah tempo menjadi gontai. Keinginan membolos jam pertama yang telah direncanakan buyar ketika ia bertemu Pak Dal di lorong menuju kelasnya. Oh shit, umpatnya tetap dalam hati.

“Pagi, Pak,” sapa Rabas dengan ketus saat langkahnya beriringan dengan Pak Dal.

“Pagi, Nak. Gimana perkembangan kartulmu? Masih stagnan di judul?” kata Pak Dal sedikit tersenyum sinis.

Anjirrr, baru aja berangkat udah ditagih, umpat Rabas sekali lagi dalam hati.

“Judulnya sih udah ketemu, Pak. Tapi masih bingung cari bahan penelitian dan isi laporan.”

“Ya cari lah. Materi sudah saya berikan semuanya. Tinggal kamu yang pintar-pintar membuat laporan dan objeknya. Saya nggak mau tahu, pokoknya besok hari Selasa harus sudah jadi bab satu, Kamis bab dua, dan Jumat bab tiga. Sabtu sidang pertanggungjawaban,” kata Pak Dal dalam satu tarikan napas.

“Itu, nggak mungkin, Pak,” semangatnya sekolah yang sudah turun, tambah drastis.

“Sudah tinggal seminggu waktunya. Kamu mau nggak lulus gara-gara kartul? Jangan lupa, kerjakan dengan jujur.”

Di kantin Rabas curhat masalah karya tulis ini pada Fadel, karibnya.

“Gila, Selasa bab satu harus selesai. Nggak berperikemanusiaan banget,” kata Fadel.

“Emang sialan si Dal,” kata Rabas. Lagi-lagi mengumpat.

“Woi, Pak Dal! Pakai pak. Emang lu kira kadal,” Kata Bu Yum, penjual kantin di sekolahnya yang mendengar umpatan Rabas.

“Tak peduli lah aku, Bu.”

“Mending lo copas aja dari internet, Bas. Kan banyak tuh contohnya,” kata Fadel memberi saran.

“Aslinya dari dulu kepikiran sih buat kopas. Tapi, nanti kartulku jadinya fiksi dong, gak sesuai realita.”

“Yaelah gann, masih mikir itu aja. Yang penting mah beres. Gak ada tanggungan. Punyaku aja kopas, semua. Tetep diterima tuh,” kata Fadel lagi.

“Kok bisa diterima sih?” Rabas agak tidak terima.

“Tau tuh Bu Narni. Ngajar aja jarang, apalagi ngurus kartul. Ya tinggal ditandatangani, selesai deh.”

“Enak banget! Tapi sih, Del...”

“Tapi apa lagi?”

“Itu nggak jujur. Aku udah disemprot Pak Dal pas ulangan dulu, kalo misalnya ketahuan nggak jujur lagi, nggak bisa bayangin,” Rabas tetap punya idealis.

“Terserah lo sih, Bas. Seminggu itu singkat banget. Gue yang modal kopas aja butuh waktu 3 minggu. Curang itu cuma lo dan Tuhan yang tau. Pak Dal bukan Tuhan. Lagian ini juga bukan ulangan.”

Kata-kata Fadel membuat imannya sedikit goyah. Rabas mulai bimbang.

Pulang sekolah Rabas langsung tancap gas pulang ke rumah untuk berkutat dengan kartulnya. Ia sama sekali tak ada bayangan untuk mulai menulis karya tulisnya, yang berjudul “Pengaruh Pelajaran Sosiologi terhadap Kepribadian Siswa dalam Kehidupan Sehari-hari”. Saat-saat terakhir, ia terpaksa sekali lagi, kalah sama omongan Fadel tadi. Rabas mulai browsing bahan buat kartulnya. Ketemu banyak. Ia copas semua bab satu, edit sedikit. Berharap Pak Dal tak curiga.

Dan bab satunya berakhir dengan tanda silang besar berwarna merah pada pagi harinya.

“Ini cuma menjiplak. Saya tidak terima. Ulangi.”

“Kok Bapak bisa menduh saya menjiplak? Apa buktinya, Pak?”

Pak Dal mengeluarkan laptop-nya dan sesaat kemudian menghadapkannya ke Rabas. Rabas hanya bisa menelan ludahnya dengan pahit.

“Kamu menjiplak bab satu skripsi saya di internet. Blog yang kamu kunjungi itu milik saya. Saya tahu benar isi bab satu ini. Kamu nggak baca judul blog-nya? Catatan Harian Dalwin! Kamu bodoh atau tolol? Kena kamu!”

Benar-benar kampret. Padahal ia sudah membuka laman paling akhir saat searching. Rabas tak menyangka guru setua Pak Dal punya blog.

“Jujur itu harus kamu tanamkan dalam-dalam di dirimu. Jangan goyah pada pendirian. Saya tahu kamu benci saya. Ketahuilah, saya begini juga demi masa depanmu. Kamu sebenarnya murid yang pandai, hanya sedikit bodoh dan tolol.”

Bodoh dan tolol. Dua kata yang membuat Rabas benci dengan Pak Dal.

“Apa kamu dendam kalau saya ejek kamu bodoh dan tolol? Kamu sakit hati? Coba, mulai hari ini ubah cara pandangmu tentang ejekan itu. Jadikan ‘bodoh dan tolol’ sebagai motivasi diri. Camkan benar hal ini.”

Dan sejak saat itu, semua hal berubah.

***

Rabas saat ini benar-benar serius dalam mengerjakan karya tulisnya. Tinggal lima hari. Pak Dal memintanya untuk semuanya selesai pada hari Jumat, tanpa alasan. Ejekan Pak Dal sungguh membuatnya termotivasi untuk kembali ke jalan yang benar. Rabas yang tadinya pemalas, sekarang penuh semangat membara.

Hari Jumat yang mendung telah tiba. Dan Pak Dal ternyata tidak masuk sekolah. Sampai hari Sabtu.

Bajingan.

Kartul yang telah Rabas jilid dengan rapi jatuh ke tanah. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ia berlari menuju lapangan, padahal sedang hujan deras. Ia tak peduli, merasa tak dihargai.

Saat meringkuk di tengah lapangan, di tengah hujan, tiba-tiba hujan berhenti di sekelilingnya. Ternyata ada orang yang memayunginya. Dan saat Rabas menengadah untuk melihat siapa yang memayunginya, ia seperti tersambar petir.

“Pak Dal!” serunya kaget campur heran.

“Kayak sinetron aja kamu. Laki-laki kok nangis,” kata Pak Dal dengan nada yang tetap mencemooh.

“Kok bisa? Kata Pak Kepsek Anda nggak masuk hari Jumat dan Sabtu, Pak.”

“Iya, tapi Jumat dan Sabtu minggu depan. Pak Kepsek nggak bilang ya?” ujar Pak Dal sambil menahan geli.

“Nggak, Pak,” kata Rabas keki. Sekarang ia malah jengkel dengan kepala sekolahnya.

“Haha, makanya tanya dulu izinnya kapan, jangan setengah-setengah. Sekarang mana kartulmu?”

“Aduh, kayaknya jatuh di depan kelas, Pak!” Rabas langsung ngacir pergi dengan penuh semangat. Gairahnya kembali membuncah.

“Oalah, memang bodoh dan tolol si Rabas. Tapi semangatnya saat ini patut diacungi jempol,” kata Pak Dal geleng-geleng kepala.

Karya tulisnya akhirnya diterima oleh Pak Dal. Itu artinya Rabas sidang untuk Sabtu besok. Rabas berulang kali berterima kasih pada Pak Dal.

“Perjuangan dan sikap jujur memang sulit kan? Tapi kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ditambah deadline yang mengejar, kamu pasti bisa. Semoga berhasil.”

Hari Sabtu, Rabas menjalani sidang pertanggungjawaban karya tulisnya. Ia sangat menguasai materi dan pemaparannya begitu detail dan meyakinkan. Saat selesai sidang, ia melirik pada Pak Dal. Beliau hanya tersenyum dengan senyuman yang begitu puas. Seminggu kemudian pengumuman keluar. Pak Dal menyerahkan hasil sidang secara langsung kepada Rabas.

“Bapak salut dengan kamu.”

Rabas membuka amplop yang diserahkan Pak Dal. Senyumnya mengembang lebar. Ia telah sukses.

***

Rabas dengan bangga naik ke atas panggung karena mendapat nilai sempurna UN mata pelajaran sosiologi. Sepuluh. From nothing to something. Ia mencari-cari seseorang yang begitu dihormatinya di sekolah ini. Tetapi saat penyerahan penghargaan, tidak dilakukan oleh Pak Dal, tetapi diwakilkan guru lain. Saat turun dari panggung, ia bertanya kepada Pak Kepsek, di mana Pak Dal berada.

“Beliau ndak hadir. Katanya sedang menghadiri rapat di luar kota. Kali ini serius, Bas.”

Rabas sedikit kecewa karena tidak bisa mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepada Pak Dal. Tiba-tiba HP-nya berbunyi.

Ada SMS masuk, dari Pak Dal.
Maaf saya tidak bisa hadir pada hari perpisahan. Sejujurnya, saya tidak akan bisa menahan tangis jika saya harus berada di sana dan melihat kamu memperoleh hasil yang sempurna. Perjuanganmu selama ini membuahkan hasil, Nak. Terima kasih, atas kerja kerasmu selama ini.

Senyumnya mengembang. Rabas menangis.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Guru Kehidupan [Cerpen CoC]
FIKSI ~ TEMA : Pelita Hidup Yang Tak Pernah Redup
Dari id: u910

****

Rabu Petang, 19:25 WIB, Ruang Baggage Claim, Bandara Internasional Di Sekitaran Ujung Galuh

"..Need your help, bro..", demikian Nakula, sahabatku semasa SMA menutup teleponnya. Aku hanya menghembuskan nafas berat yang panjang. Perlahan ku langkahkan kakiku dengan gontai menuju ke luar Bandara. Aku, sang perantauan akhirnya pulang kampung.

Perlahan ku review sejenak apa yang dia minta, ".. Please bro, aku kehabisan orang buat jemput para guru dalam reuni nanti .. Kali ini reuni besar Bro, 20 tahun usia alumni kita. Dan kau tahu, Bro ? Kita undang semua Guru yang pernah mengajar kita. Keren kan Bro ? Jangan pikirkan acara, sudah banyak yang menangani..."

"....." 

".. jadi kita kekurangan personil buat menangani urusan transportasi Guru, Bro.. sebenarnya sudah ada Tim transportasi kita ; Michelle, Zia, Ghofur, Dominic dan Sen-sen, namun ternyata masih kurang... Aku bingung juga nih, mana Yasmar gak mau bantu pula.. Kan kamu besok dah pulang toh ? Acara reuni nya masih empat hari kedepan koq.. Bisa ya, Bro ?"

"....." 

"..jadi gini Bro, ada sekitar 20-an Guru semasa SMA yang akan kita undang. Semuanya, termasuk kelas Sos, Gak cuman Bio dan Fisika. Nah, Tim transportasi kita sudah handle semua antar - jemput Guru, kecuali satu, karena kejauhan. Kebetulan tempat mu yang terdekat lokasinya dengan Beliau...Nah, mobil bapak mu bisa dipake kan Bro ? "

".. Mobil bapakku kayaknya masih bisa laaa...tapi sapa sih Guru yang harus kujemput ? ... " 

".. Bu Flabella ..."

".. ha ? sapa ? yang mana ya ? mampus...lupa aku, jeh..." 

".. hahaha... sem! Ah dasar, dah ntar detailnya di info Gek Kadek ke kamu langsung, Bro ...Bisa handle ya Bro ? "

".. Yawdah.. Apa sih yang nggak , buat elu Bro ? hahahaha..."

****

Minggu Pagi, 08:25 WIB, 30 km dari Bandara Internasional Di Sekitaran Ujung Galuh

Akhirnya tibalah aku di depan sebuah rumah nan asri. Sederhana, tanpa banyak kemewahan yang terlihat, namun tertata rapi. Entah kenapa, rasanya damai dan teduh. Dan ini baru sekali ini aku kemari ..

Sembari memantapkan diri bahwa aku tak salah ke rumah orang lain, ku telepon Beliau, "Assalammualaikum Bu, saya Ban Gun, alumnus SMA 61 tahun 93 yang ditugaskan Gek Kadek menjemput Ibu.." 

Terdengar jawaban yang hangat dari seberang....

Ah Ibu Guru Flabella, maafkan muridmu ini yang lupa lupa ingat akan dirimu, Bu. Jujur, Bu, murid durhaka ini lupa dulu Ibu pernah mengajar di pelajaran apa dan kelas berapa. 

Kehidupan bergerak dengan beringas dan begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Ntah kejadian merah, ntah kelabu dan kadang hitam kelam. 

Yeah, aku serasa orang kalah perang yang pulang perantauan. Sebuah perasaan yang sangat gak enak tentunya. Kenangan masa SMA mungkin tertumpuk sekian ratus ribu memory lain yang telah begitu deras menerpa. Entahlah, mungkin chipset yang menyimpang memory tersebut ikut hancur pecah berkeping keping setelah terjatuh ke dalam jurang ingatan.

Sebagian dari diriku bahkan sempat merutuk kesal kepada Nakula dan Gek Kadek. Namun sebagian lain membuatku malu apabila mereka tahu bahwa aku sebenarnya lupa akan Bu Flabella. Seandainya mereka tahu, tentu habis aku dijadikan bahan bully an mereka. Jangankan dengan beliau, dengan beberapa sahabat lain juga aku lupa. Apalagi reuni ini terjadi setelah 20 tahun kelulusan SMA.

Kehidupan pula yang menempaku untuk pintar memakai topeng dan bermanis muka, seolah kenyataan adalah sebuah fiksi dengan lakon drama panggung yang aku jalani. Maka demikianlah, sembari berpura pura bermuka manis, kucoba menutupi kenyataan yang diakui sang batin : aku lupa sama ibu guru.

"Bu Flabella, lama tak berjumpa. Wah tambah awet muda aja Ibu ini ...", sapaku sambil beruluk salam menyambut sesosok wanita separuh baya yang menghampiriku.

Jujur aku lupa, dan hanya menebak nebak saja bahwa beliau adalah Bu Flabella. Beliau mengenakan setelah kebaya semi kantoran berwarna biru dengan motif batik khas jawa timuran. Kerudung jingga nya tertata rapi. Raut wajahnya terlihat cerah dengan pandangan teduh. Dengan pamor aura kewibawaan nan lembut yang perlahan membuatku membuka buka memory lama. Dan menebak nebak.

"Haha...Mas Ban Gun, duh maaf Ibu lama ya .. Maklum ibu sudah tua, gerakan nya gak gesit kayak dulu lagi.. Yah beginilah Ibu sekarang nak " 

"Gak papa Bu, santai aja, toh cuman ke reunian ini koq Bu... ", jawabku sambil beruluk salam santun. Sebuah sikap yang reflek keluar dari diriku tanpa kusadari. Aku sendiri terkejut. Mungkin separuh aku sudah menyadari hubungan guru murid kepada beliau, "Mari Bu kita berangkat.." 

Maka meluncurlah Benz Tiger jadul yang setia menemani ayahku mencari nafkah menuju ke sebuah Convention Center di bilangan kota selatan.

****

Minggu Pagi, 09:25 WIB, Driving Along the road to the Convention Center, Mercy Tiger

Dijalan aku masih mencoba merangkai rangkai memory ku, kenangan masa SMA. Ah, kesudut mana kenangan itu berada... Hidupku bergerak laksana jetcoaster...

"Gimana mas Ban, kabarnya ? Wah selamat ya, angkatan kalian sudah berhasil menggelar reuni SMA yang 20 tahun ini.." sapaan Bu Flabella membubarkan ingatan ku.

"Alhamdullillah Bu, baik ... " sahutku sambil memberikan senyum tersantun yang aku tahu. Tentunya sembari menyetir.

Kemudian kami saling bertukar cerita mengenai kondisi terakhir masing masing. Dari beliau lah aku baru tahu bahwa beberapa Guru yang pernah mengajarku sudah berpulang ke Rahmatulloh.

"Kau tahu nak ? Dari sekian banyak alumni SMA kita, angkatanmu lah yang paling ibu banggakan .."

"Ah Bu Fla terlalu meninggikan kami. Kami ini apa sih Bu, cuman gitu gitu aja ... Kan angkatan 85 sama 87 malah lebih amazing lagi Bu.. banyak yang sudah jadi petinggi di negeri ini ..", sahutku sambil mencoba berpikir keras.

"Lho, bener lo Nak.

Bukan sekadar pencapaian karir dan bisnis yang menurut Ibu patut dibanggakan ...
Namun bagaimana kalian bisa menjadi manusia yang baik. 
Proses menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain itu tak mudah lho nak ...

Orang jaman sekarang cenderung silau oleh pencapaian karir dan sebagainya, namun lupa bagaimana menjadi manusia seutuh nya ... Manusia yang bisa memanusiakan manusia lain dan menjadi pengelola yang bijak di alam ini, negeri ini ...

Ibu salut dengan angkatan kalian yang masih kompak, masih bisa bertemu. 
Masih mengingat kami para Guru..
Masih mau membantu sesama
Masih mengingat akar dimana kalian dibesarkan... dan bagaimana berada didalam masyarakat.."

Jujur aku jadi spechless tanpa kata mencerna kata kata beliau. Aku seperti di ingatkan akan sesuatu yang paling substansial dalam hidup ini. Pencapaian karir dan kesuksesan materi adalah sesuatu yang aku idam idamkan selama ini. Dan ternyata bukan itu ..

Perlahan aku mulai mengingat sosok Bu Fla, yang dulu pernah mengajar Bahasa Indonesia semasa SMA. Pelajaran gampang yang paling aku sepelekan. 

Ternyata Guru tetaplah seorang Guru. Beliau yang dulu adalah sosok guru bahasa kini menjelma menjadi sosok guru kehidupan di depan ku..

"Kau tahu, nak ? 
Di kelas ibu mengajar bahasa Indonesia.
Namun sembari mengajar kurikulum ibu juga menyelipkan proses menjadi manusia yang baik, dengan pelajaran bahasa Indonesia sebagai alatnya..

Sering ibu ceritakan mengenai dharma baik angkatan kalian di kelas...

Tentang bagaimana kalian bersatu membantu sesama alumni yang belum bekerja..
Tentang bagaimana kalian membantu yatim piatu dari anak sesama alumni yang wafat..
Tentang bagaimana kalian membentuk dana swadaya abadi buat kemanusiaan ..
Serta bagaiamana perhatian kalian kepada adik adik tingkat yang masih menjalani pendidikan di sekolah saat ini .."

"...", aku semakin terdiam. Semakin aku bersalah sudah melupakan beliau, dan para guru yang lain. Aku sang murid durhaka, ntah mengapa, aku menjadi terharu. Hatiku yang membatu seolah runtuh kedalam jurang gelap. Seolah apa yang aku banggakan dan aku takutkan menjadi tak berarti. Seolah di cabut dari sebuah pemikiran yang salah, seketika.

"Tahukah nak, kalo angkatan kalian lah adalah angkatan kebanggaan kami para guru disekolah ?
Disaat senggang kami sering sharing berbagi cerita tentang amal budi kalian dengan sesama guru di sekolah ?"

"..."

"Tahukah kau nak, kalo angkatan kalianlah sosok contoh yang ideal dalam membangun karakter adik adik tingkat kalian ?"

Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar beliau bercerita. Benar benar seperti di tampar keras dengan sebuah kelembutan. Sebuah pujian yang sekaligus laksana belati yang menyayat ketidaksadaranku. Dan kemudian membuka mata ku agar menjadi orang yang lebih baik, besok dan dimulai saat ini.

"Bahkan kepada Shofie, putri ibu semata wayang, Ibu pun mengatakan hal yang sama. Dan tahukah kau nak ? Angkatan Shofie sekarang tengah merintis jalan yang sama dengan angkatan kalian, guyub rukun dan perduli kepada sesama ...."

****

25 menit kemudian

"....Hidup itu naik turun nak.
Nikmat dan cobaan itu cuman warnanya hidup aja. Janngan putus asa dan tetaplah semangat. Jadilah manusia yang memanusiakan orang lain. Jadi manusia yang saujana dan santun itu lebih penting.

Bukan masalah bagaimana jalan yang harus dilalui, namun terkadang Tuhan punya rahasia dan kebijakan sendiri untuk memberikan pelajaran kepada kita. Pada hakekatnya hidup ini adalah sebuah perjalanan ruhani kan ? 

Rangkaian proses yang membuat kita semakin dewasa dan matang.. Kenapa ? Karena kita adalah teladan bagi anak cucu dan penerus kita, makanya kita yang saat ini pasti selalu dalam proses pembelajaran, dengan berbagai macam warna cobaan kehidupan

Yang penting jangan menyerah atau bahkan berpikir bunuh diri ... Itu sama aja menyianyiakan dukungan dari mereka yang sudah menyayangi dan mendukung kalian. Bisa jadi dukungan dari keluarga, orang tua bahkan guru ...

Tak apa kita sekali sekali jatuh, terpuruk dan kalah. Itu biasa dalam kehidupan. Menang, kalah. Pertemuan, perpisahan. Terpuruk dan bangkit, sebenarnya hal yang wajar aja dalam hidup.

Namun yang pasti, jangan pernah menyerah untuk bangkit dan berjuang, nak ...", seolah beliau sanggup membaca isi batinku...

****

Minggu Pagi, 10:25 WIB, Convention Hall Di Sekitaran Ujung Galuh

Reuni akbar ini seolah membawa kembali atmosfer masa SMA ke masa kini, memenuhi kosongnya diriku. Suasana yang mungkin telah lama kurindukan. Keakraban yang mendamaikan keringnya jiwa. Perlahan namun pasti, memory lama yang telah pecah berkeping keping dalam dasar jurang kenangan terangkat ke atas. Dan kemudian mekar berseri dalam bentuk yang baru. Walau hanya sehari, walau dalam reuni.

Reuni, adalah sebuah miniatur laboratorium kehidupan. Kau bisa melihat masa lalu dan masa kini dalam satu bingkai waktu bersamaan, demikian Bu Fla bercerita sebelumnya. Sedikit banyak aku setuju dengan beliau.

Beberapa rekan bengal dan partner in crime semasa SMA bahkan telah berubah. Dulu madesu alias masa depan suram, namun hidupnya demikian cerah saat kini. Beberapa yang lain memiliki cerita yang berbeda, ujian hidup yang begitu deras. Beberapa pasangan semasa SMA kini sudah menimang buah hatinya, beberapa lainnya malah memilih jalan berbeda. Beberapa rekan terlihat ceria seolah berhasil bangkit dari tragedi, sebagian lain malah tiada bisa hadir karena telah berpulang. Sebagian datang secara bersahaja, sebagian lain datang dengan senyum dibalik duka.

Ya, bener kata Bu Fla barusan. Naik turun kehidupan itu hal yang biasa, hanya perlu disikapi dengan bijak. Semuanya adalah perjalanan ruhani, sebuah proses pematangan diri, menjadi manusia yang lebih baik. Tak masalah seandainya kita khilaf dan berjalan melenceng dari rel kehidupan, yang penting bagaimana hari ini dan esok kita memperbaiki diri kita......

Dan kemudian, kulihat kembali para guru ku yang berkumpul kembali dengan para bekas muridnya. Murid yang telah menjadi 'orang', dan guru yang telah menjadi 'begawan kehidupan'. Gelak tawa dan senyum akrab mewarnai damainya silahturahmi reuni ini. 

Disana sini bertebaran hawa motivasi dan penyemangatan untuk bersabar dan kuat bertarung diantara ganasnya samudera kehidupan.

Demikianlah, kurikulum mungkin sudah habis disampaikan, namun pelita kehidupan yang kalian bawa ternyata tak pernah redup. Terimakasih wahai pak dan bu guru...


----
* Ini adalah fiksi, iya fiksi
Bener lho, ini fiksi. Semuanya fiksi, kecuali sang guru yang dengan segala hormat kepada beliau namanya ane fiksikan dan momen reuni nya non fiksi.

Ho-oh ini fiksi, lihat aja deh kejujuran di wajah akyuh emoticon-Malu (S) 
Kalau ada yang bermanfaat ya itu datang dari Alloh SWT. Dan yang buruk pasti berserakan disana sini, nah itu pasti dari saya, mohon abaikan ya ..Ini pertama kali nya nulis hehehe...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Delapan Tertidur [Cerpen COC]
Tema: Tak Terhingga Jasamu
Id kaskus: ki.co

“Bantuan anda sudah habis. Untuk satu milyar rupiah, apa jawaban anda?”

Tanpa diberitahu pun aku sudah tahu. Orang yang berada di hadapanku saat ini benar-benar menjengkelkan. Kamu tahu, apa yang lebih menjengkelkan? Gestur wajahnya. Wajahnya seolah memberitahuku untuk menyerah saja dengan membawa uang 500 juta, dan secara bersamaan mengharapkan diriku memberikan jawaban yang salah sehingga hanya membawa 32 juta. Sulit untuk membayangkan wajahnya, bukan? Jangan khawatir, kamu tak harus membayangkannya. Jika kamu bisa, cukup bantu aku saja menjawab pertanyaan kelima belas ini:

“Dalam serial buku anak-anak, dari negara manakah Beruang Paddington berasal?”
A. India 
B. Peru
C. Kanada 
D. Islandia

Quote:
[EVENT COC] Yuk buat Cerpen Spesial Hari Guru !


Demi Tuhan. Dari sekian misteri, teka-teki atau pertanyaan di dunia ini yang sulit terjawab, mengapa harus soal ini yang menjadi halangan terakhirku untuk mendapatkan satu milyar rupiah. Untuk membuatnya terlihat lebih konyol, aku telah menghabiskan semua bantuan untuk satu pertanyaan ini.

Pertama, 50-50. Bantuan ini menyisakan pilihan jawaban ‘B. Peru’ dan ‘D. Islandia’. 

Kedua, ask the audience. Hasilnya, 50% penonton menjawab ‘B. Peru’ dan sisanya ‘D. Islandia’. Benar-benar tidak berguna.

Terakhir, phone a friend. Aku memutuskan untuk menghubungi temanku yang merupakan seorang penulis. Lima belas detik pertama, sambungan telepon buruk. Lima belas detik sisanya, aku hanya mendengar dia berkata, “hmm, di Islandia sepertinya banyak beruang, deh,” dan akhirnya terdengar bunyi, “TUUUT”. Phone a friend akhirnya terbuang begitu saja. 

Jujur saja, ‘kursi panas’ yang sedang kududuki ini benar-benar terasa panas sekarang. Batas waktu untuk menjawab terus berkurang. Keringat mulai membasahi punggungku. Kucoba untuk menenangkan diri. Kuusap dan kubenamkan wajah ini ke arah kedua telapak tanganku sambil tertunduk. Hingga kemudian semuanya terasa sunyi di studio ini. 

“Hei, kamu! Aku sedang bicara denganmu, bangunlah!”

Hanya suara itulah yang kemudian terdengar.

Mendengar suara yang kurasa bermaksud memanggilku, kubuka kedua telapak tangan dari wajahku. Apa yang kulihat sesaat setelah mataku terbuka benar-benar membuatku merasa sudah gila. Kupikir wajar saja jika merasa gila gara-gara menghadapi pertanyaan senilai satu milyar. Mataku tertuju ke sosok yang sedang berdiri di depanku, sosok lain selain si pembawa acara.

“Terkejut, hah? Kamu benar, kamu sudah gila,” sosok itu berbicara seolah dapat membaca apa yang sedang kupikirkan.

“Apa kamu sadar apa yang ditertawakan para penonton dan orang yang duduk di hadapanmu tadi? Tidakkah kamu melihat bagaimana mereka memandangmu?” Sosok itu melanjutkan ocehannya.

Tentu aku sadar. Setelah berhasil menjawab pertanyaan ke-14, aku keceplosan mengucapkan kalimat yang membuat seisi studio tertawa.

Apakah kamu itu Tuhan?

Pertanyaan itu aku tujukan kepada pembawa acara kuis di hadapanku. Kalimatnya keluar begitu saja dari mulutku. Bukan tanpa alasan hal itu bisa terjadi.

Kamu pikir, kenapa aku bisa lolos sampai ke pertanyaan 1 milyar tanpa menggunakan satu bantuan pun sebelum akhirnya sia-sia gara-gara pertanyaan konyol itu?

Itu adalah daftar pertanyaannya. 

Pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan pembawa acara itu benar-benar membuatku keheranan. Bagaimana bisa semua pertanyaannya membuatku teringat akan mereka di saat-saat seperti ini. Membuatku dapat menjawab keempatbelas pertanyaan sebelumnya tanpa bantuan. Apakah ini cara Tuhan menegurku? Pembawa acara ini seolah mengetahu semua masa laluku.

Itulah mengapa aku bertanya-tanya, “apakah kamu itu Tuhan?”

“Tidak, temanku. Aku hanya orang yang mengatur jalannya acara ini, bukan pengatur alam semesta,” jawab si pembawa acara beberapa saat yang lalu, diikuti gelak tawa membahana para penonton di studio.

“Mungkin saya yang seharusnya menanyakan pertanyaan itu kepada anda,” lanjutnya diikuti lagi tawa penonton mengisi studio, “anda telah berhasil melewati 14 pertanyaan tanpa menggunakan satu pun bantuan!” 

Setelah membuatku teringat kejadian tadi, sosok lainnya yang sedang berada di hadapanku mulai mengoceh kembali, “jadi, kamu telah sadar betapa sombongnya dirimu itu, kan?”

“Kesombonganmu semakin jelas saat kamu malah membuang ‘phone a friend’ begitu saja. Dibanding temanmu yang ceroboh itu, kamu sadar betul siapa yang seharusnya kau hubungi tadi, bukan?” Lanjut sosok itu.

“Bagaimana kau mengetahuinya?” Tanyaku keheranan.

“Kamu tidak perlu keheranan begitu. Jangan menanyakan hal yang kamu sudah ketahui jawabannya, wahai diriku yang sombong!”

Sosok itu memang mirip denganku. Aku benar-benar sudah gila.

“Kamu pikir, apa yang membuatmu bisa sampai ke titik ini? Murni karena pengetahuanmu? Atau gelar pendidikanmu? Pfft. TETOT!”

Dia mengucapkannya dengan memasang wajah yang meledekku. Menjengkelkan sekali diriku ini.

“Kamu tidak peduli dengan uangnya, bukan? Yang kamu pedulikan hanya ambisi memecahkan rekor sebagai orang pertama yang berhasil membawa satu milyar itu di negara ini. Memang, tidak ada yang salah dengan ambisi itu. Hanya saja, cara kamu mencapainya memperlihatkan betapa sombongnya dirimu itu!” Ucapnya terlihat kesal. 

Benarkah?

“Untuk membuktikannya, biarkan aku mengulang beberapa jawaban yang kamu berikan tadi.”

Dia pun memulai pembuktiannya.

“Jawaban soal kedua, Jean Henry Dunant. Tiba-tiba kamu teringat gurumu semasa SD itu, bukan? Guru yang mengajarimu pengetahuan umum. Guru yang biasa kamu ejek dengan sebutan “bolo-bolo” bersama teman-temanmu itu.”

Aku tak bisa menyanggahnya. Dia benar.

“Jawaban soal kelima, titik aman pertamamu, Adis Ababa. Saat memikirkan jawabannya, kamu teringat guru geografi semasa SMP yang kamu sebut “pelit nilai” itu, kan? Kamu menyebutnya “pelit” dan menaksirnya di waktu yang bersamaan, ckckck."

Lagi, dia benar. 

“Titik aman kedua, 32 juta, kamu menjawab ‘Ribosom’. Aku yakin kamu masih menyimpan dendam pada guru biologimu sewaktu duduk di kelas XI. Gara-gara merasa jawabanmu disalahkan, nilai UAS biologi-mu saat itu, hanya terpaut satu angka saja untuk bisa menjadi juara umum kelas XI. Kamu bahkan sempat mendebatnya mengenai jawaban yang kau anggap benar."

Hingga saat ini pun aku masih yakin jawabanku lah yang benar. 

“Asal tahu saja, mereka itu, selain meninggalkan kenangan dalam hidupmu, mereka juga meninggalkan ilmu yang kamu gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Meskipun kamu membenci, menghina, dan melupakan mereka, ilmu dan kenangan yang mereka tinggalkan untukmu masih tetap berbekas dalam dirimu, bukan?”

Benarkah?

“Dan untuk pertanyaan terakhir ini, seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, kamu benar-benar sombong sekali untuk tidak menggunakan ‘phone a friend’ untuk menghubunginya. Kamu merasa lebih tahu darinya. Merasa lebih pintar darinya hanya karena gelar dan pendidikan yang telah kamu jalani telah melebihi miliknya.”

Aku benci dia. Aku tidak bisa menghentikannya terus berbicara.

“Padahal tanpa dirinya, kamu tidak akan mencapai titik ini. Tidak-tidak, jangankan menjawab pertanyaan senilai satu milyar, pertanyaan senilai 100 ribu pun tak akan bisa terjawab. Bahkan, pertanyaan yang tertera di layar itu pun tak akan pernah bisa kamu baca tanpa bantuan darinya waktu itu dan kamu tidak mungkin akan berada di ‘kursi panas’ yang sedang kau duduki saat ini.” 

Aku hanya terdiam.

“Kapan terakhir kali kau menghubunginya? Jangan-jangan, namanya saja sudah tidak ingat.”

Tidak benar, aku ingat siapa dia. Aku ingat nama yang dimaksudnya itu. 

“Dia orang yang telah membukakan apa yang biasa disebut ‘jendela dunia’ untuk dirimu. Guru pertamamu di sekolah. Selain ayah dan ibumu, ia adalah orang yang pertama kali mengajarimu membaca. Mencegahmu dari ‘kebutaan’. Ironisnya, kamu masih ingat buku yang pertama kali ia gunakan untuk mengajarimu membaca., kan? Itulah petunjuk dari soal terakhir ini.”

Aku masih mengingatnya. Buku itu memiliki gambar beruang dengan topi merah di atas kepalanya, berjaket biru, memakai sepatu boots berwarna merah di sampul depannya. Ya, si Peddie Bear alias Paddington. Aku tidak tahu darimana asalnya beruang itu. Tapi, aku masih ingat bahwa aku pernah melihatnya. 

“Apakah kamu masih ingat warna bulu beruang di sampul itu? Kalau dipikir, beruang di Islandia itu kebanyakan berwarna putih, kan?”

Apakah dia baru saja memberiku petunjuk?

“Itu saja. Giliranku sudah selesai. Sekarang, semuanya terserah padamu. Pesan terakhirku, satu milyar itu tidak sebanding dengan apa yang telah mereka berikan untukmu. Kalaupun ada angka yang mewakili jasa mereka, itu adalah angka delapan. Delapan tertidur alias tak terhingga. Jadi selanjutnya, aku percayakan kepadamu apa yang harus dilakukan setelah ini.” Ucap sosok itu sebelum tiba-tiba suara pembawa acara terdengar kembali olehku.

“Apakah anda sudah memiliki jawabannya?”

Kuambil napas panjang sebelum mengucapkan jawaban yang kupilih.

B. Peru.

“B. Peru adalah jawaban anda untuk satu milyar rupiah. Is that your final answer?”

Sambil mengusap wajahku, aku hanya mengangguk.

“Kita kunci jawabannya,” dia merespon anggukan dariku. 

Untuk beberapa detik, seisi studio terdiam. Hanya musik latar yang terdengar.

“Indonesia, selamat!! Anda baru saja memiliki miliarder pertama dari kuis ini!” Ucapnya diikuti riuh tepuk tangan yang meriah dari penonton yang kulihat mulai berdiri satu per satu.

Sesaat kemudian, dia berdiri menyalamiku dan dengan gaya berbisik dia melanjutkan, “mungkinkah, satu milyar ini akan anda donasikan?” Tawa penonton pun sontak kembali membahana di studio.

“Apakah kamu itu Tuhan?” Itulah ‘jawaban terakhirku’ yang sebenarnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oke itu dia guys artikel saya tentang "Kumpulan Cerpen Untuk Hari Guru (Kaskuser)" semoga dapat bermanfaat bagi kalian semua jika nanti ada update lagi pasti akan saya update kok, jika ada kesalahan mohon untuk dimaafkan atau bisa kalian perbaiki dengan cara komentar tentang kesalahan artikel ini dibawah. Apabila artikel ini bermanfaat kalian dapat membagikannya ke media sosial atau ke Grup WA keluarga kalian Terima kasih sudah berkunjung.

Source: kask.us/ik3PE

Artikel Terkait