Kumpulan Puisi Hari Pahlawan 10 November Dari Kaskuser

watch_later Senin, 06 November 2017
Kumpulan Puisi Hari Pahlawan 10 November Dari Kaskuser

Kumpulan Puisi Pahlawan Dari Kaskuser 2017 - Hallo good people, Kali ini saya akan membagikan beberapa Puisi Pahlawan yang dilansir dari forum Kaskus. Puisi Pahlawan ini untuk mempringati Hari Pahlawan. So langsung saja guys ini dia Kumpulan Puisi Hari Pahlawan 10 November dari kaskuser.

BACA JUGA : PUISI UNTUK AYAH

Puisi dari kaskuser ehzancell

Langsung saja inilah puisi yang berjudul PAHLAWANKU

" Pahlawanku . . !!

Kaulah Pahlawan Negeriku
Kau Korbankan Jiwa Ragamu Hanya Untuk Melindungi Negeri Ini Dari Para Penghalang.

Siang Kau Jadikan Malam
Malam Kau Jadikan Siang
Tak Peduli Suara Bom Datang
Kau Tetap Menyerang.

Dengan Bambu Runcing Di Tangan
Badan Tak Berpakaian
Kaki Pun Tak Beralasan
Tapi Bagi Dirimu Itu Bukan Penghalang
Demi Indonesia Yang Tersayang.

Semangat Juangmu Bagaikan MACAN Yang Gagah Dan Menawan.
Kau Berontak, Menyerang , Dan Melawan.

Walaupun Darah Bercucuran
DadaMU tertusuk Pedang
Dan NyawaMU Akan Melayang
Kau Tetap Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan.

MERDEKA . . MERDEKA . . MERDEKA......

Itulah Kata - Kata Yang Selalu Kau Ucapkan Pada Saat Di Medan Perang .

Oh . . Pahlawanku . . . !!!
Kemerdekaan Sudah Ditangan
Air Mata Kegembiraan Pun Bercucuran
Penderitaan Yang Setiap Hari Menjadi Makanan
Kini Hanya Kenangan Yang Tak Pernah Terlupakan

Terimakasih Atas Kemerdekan Yang Kau Berikan
Yang tidak Mungkin Ku Gapai Sendirian
Namun Kau Selalu Ku Ingat, Ku Hormat, Dan Ku Kenang.
Sampai Ragaku Hilang

Karna Kaulah Pahlawan Indonesiaku Yang Ku Sayang

Puisi dari kaskuser alteisen

Pesan Pahlawan:

Beruntunglah kalian wahai pemuda masa kini
Menikmati kedamaian di tanah air tercinta
Kami semasa kalian masih memimpikan kedamaian
Sebuah kata yang terdengar abstrak namun berjiwa
Dan kami tidak yakin akankah kedamaian tercapai

Kami bahkan tidak tahu apakah kami masih dapat hidup
Akankah matahari pagi menyongsong tangis kami
Seakan benang kematian sudah ditunjukkan dan siap putus kapan saja
Detik ini? Menit ini? Jam ini?

Ketakutan dan keputusasaan pun terus mengejar kami
Baik itu di dalam tanah maupun di angkasa luas
Mata lapar penjajah pun tak henti-hentinya memangsa jiwa
Kata menyerah pun seakan sudah naik ke lidah
Namun bayangan akan kedamaian membakar semangat
Karena itulah cita-cita besar demi ibu pertiwi

Kami melakukan ini bukan untuk kami sendiri
Untuk kalian anak cucu kami kelak
Cukuplah kami bersimbah darah demi negeri
Hentikan tangismu dan tersenyumlah
Kami tidak mengharapkan pujaan maupun syair
Pertahankanlah hasil perjuangan kami dengan sinar mentari
Inilah pesan terakhir dari kami

Surat untuk Pahlawan:

Teruntuk para pahlawan yang kini terbaring bisu
Dengarkanlah kata hati dari anak negeri yang kau perjuangkan
Anak negeri yang masih paham akan tetes darah yang kau korbankan

Saat ini kami telah merdeka dari penjajah
Namun kami belum merdeka dari bangsa kami sendiri
Kami sangat merindukan zamanmu wahai pahlawan
Kalian bersatu padu dan berjalan beriringan demi tujuan mulia
Kami di sini banyak terpecah belah dan saling menjatuhkan
Paham individualisme telah merasuk ke jiwa Bhineka Tunggal Ika

Sempat dalam pikirku mungkin inilah akhir dari negara ini
Apa gunanya sebuah negara di mana rakyatnya sengsara?!
Apa gunanya sebuah pemerintahan jika uang menjadi presiden?!
Apa gunanya sebuah hukum jika menjadi objek jual beli?!
Apa artinya Indonesia jika rakyat saling berperang?!

Namun aku teringat akan ceritamu
Kalian sempat terjebak dalam kegelapan kelam
Namun kalian tidak patah semangat bahkan lebih semangat
Tujuan kalian menghapus semua keraguan di dalam hati

Dan cahaya ini ternyata tidak tertidur
Dia hanya sulit ditemukan di kegelapan yang dalam
Jiwa pemuda masih hidup di dalam segelintir
Dan mereka masih berjuang demi negeri ini

Mungkin memang aku tidak akan melihat saat itu
Saat di mana hati para rakyat Indonesia akan dipenuhi cahaya
Terangnya sama seperti Soekarno membacakan proklamasi
Tapi aku juga akan ikut berjuang bersama mereka
Membawa panji semangat 45 ke dunia

Pesan terakhirku untuk kalian wahai pahlawan
Istirahatlah dengan tenang
Giliran kami untuk berjuang demi kemerdekaan
Menyebarkan cahaya di pulau-pulau yang terjebak kegelapan

Hei penjajah:

Hai kamu wahai manusia
Iya kamu yang merasa tinggi
Kalian yang mengusik kedamaian di ibu pertiwi
Kalian yang hanya peduli sama bangsa kalian sendiri
Maaf tapi sudah waktunya kalian pergi

Pergi
Ibu pertiwi sudah tak tahan lagi
Dia sudah tak tahan dengan darah yang kalian makan
Tak tahan dengan kebejatan yang kalian lampiaskan
Tak tahan dengan alam yang kalian kuasai

Pergi
Mungkin kalian boleh lebih pintar
Mungkin kalian boleh memakai mesiu dan tank baja
Mungkin kalian boleh memakai tipu daya emas berlimpah

Pergi
Aku katakan pergi
Tak peduli aku hanya bersenjatakan bambu
Tak peduli aku memakai kaos putih
Tak peduli aku meninggalkan anak istri

Kamu masih di sini?!
Maaf tapi ini demi ibu pertiwi
Dan demi anak-anaknya kelak yang akan lahir
Jika ini jawabanmu maka tak ada maaf dariku
Akan kubuat kamu pergi dengan tangan ini

Puisi dari kaskuser dypelangi

Senandung PeLanGi
{Perjuangan Pahlawan Negeri}

Kamukah pahlawan itu?
Tercatat di sepanjang trotoar Jakarta-Yogyakarta
Terukir pada sederet angka 30-09-1965
Terabadikan lewat monumen Pancasila Sakti
Sejarahmu, berani mati melawan PKI
Ironisnya, kami tak lagi peduli
Bahwa kamu; Pahlawan Revolusi

Kamukah pahlawan itu?
Terlahir dengan sikap dan sifat tiada lelah
Begitupun tiada lengah apalagi pasrah menentang penjajah
Adamu terteladani dengan gelar anumerta
Sketsa rupa dan nama tentangmu terukir di pucuk-pucuk kota
Sejarahmu, berani taruhan nyawa
Ironisnya, kami seolah tak mengenal
Bahwa kamu; Pahlawan Nasional

Kamukah pahlawan itu?
Penganut kebebasan
Penuntut persamaan
Pemimpi keadilan
Sejarahmu; hak lelaki-perempuan tiada perbedaan
Ironisnya, kami tak lagi bersimpati
Bahwa kamu; Pahlawan Emansipasi

Kamukah pahlawan itu?
Yang memandang penjuru negeri menyesakkan
Hingga rela mengadu nasib di negeri orang
Inginmu, keluarga berkecukupan
Sejarahmu, menukar kebahagiaan dengan cambuk siksaan
Ironisnya, kami sering memicingkan mata
Bahwa kamu; Pahlawan Devisa

Kamukah pahlawan itu?
Yang memperkenalkan aksara, bilangan, dan berjuta hal tabu
Yang selalu di samping dan membimbing agar langkah tetap maju
Dan sekian yang lain-sampai kami berhasil melawan kekejaman waktu
Sejarahmu, anakku harus berilmu
Ironisnya, kami acapkali lupa
Bahwa kamu; Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Malang-Petang, 17.08.2014

Tetua VS Pemuda

Satu per satu
Merpati mengabarkan berita

Tetua menelurkan ikhtiar
Pemuda mengeramkan gemerlap malam

Satu per satu 
Berita menjabarkan kisah

Tetua melawan, berjuang, mengusir penjajah
Pemuda diam, mematung, dijajah

Satu per satu
Kisah memaparkan peristiwa

Sejarah mencatat Tetua bersahabat dengan bambu runcing
Sedang Pemuda berkarib dengan makhluk asing

Sejarah turut mencatat Tetua ikhlas bersimbah darah
Namun pemuda dicatat menghitung seberapa dendang malam tercurah

Satu per satu
Peristiwa terbaca ngilu

Tetua berpulang
Pemuda alpa mendoakan
Tetua mewariskan kemerdekaan
Pemuda hanya menyimpan tanpa wujud pembelaan

Sampai kengiluan memuncak
Tatkala kenyataan menguak

:Tetua menang dan pahlawan,
Pemuda kalah dan pecundang

Malang-Subuh, 22.08.2014

Konstruksi Sehelai Kain Merah Putih

~|~
Di sebuah istana, tersimpanlah sehelai kain merah putih yang telah menua. Cerita ibuku, kain itu adalah warisan kompeni yang dulu berlapis "biru"-di mana "biru" lantas tercabut dari pematangnya.

~||~
Di pematang yang tersisa tertancaplah baris-baris jarum tersurat. Seolah menjadi isyarat, anak negeri merintih pilu dijajah lara. Sedang benang-benang menanggalkan jejak tersirat. Menandakan bahwa anak negeri menaruh asa, "Ia boleh terluka, namun negeri berhak merdeka."

~|||~
Pada perpaduan merah-putih, terselip nilai juang tiada tara diselingi pengorbanan tanpa jeda. Harap merah-putih; nilai itu tak hanya tertanam di dalam diri nenek moyang dulu, namun juga tertanam pada generasi pemudi-pemuda. Demikianlah nilai seolah benih, terus tumbuh dan tetap ada.

~|V~
Konstruksi sehelai kain merah-putih, bukanlah sekedar asumsi; merah adalah berani, putih adalah suci. Lebih daripadanya merah-putih adalah identitas ibu pertiwi. Begitu pun merah-putih bukanlah sekedar persepsi; merah adalah darah, putih adalah tulang. Lebih daripadanya merah-putih memang seolah organ. Saling melengkapi tak terpisahkan. Berbeda warna, menyatukan. Tetap dijaga, dan diwariskan.

Malang-Malam, 23.08.2014

Epos Lelaki & Perempuan Tua

Topi usang ia sandarkan pada dinding bilik bambu bersamaan dengan matahari akan tumbang. Tak peduli dengan asam keringat yang menyengat, lelaki itu menghitung sekiranya berapa rupiah tertimbun di atas dipan.

Pada waktu yang sama, perempuan bertangan kasar mengangkat tungku dari perapian. Ia menghampiri lelaki itu lantas menghidangkan ubi di atas daun jati dengan lauk garam. 

Tak seberapa lama, keduanya membangunkan anak-anaknya yang terlelap dengan mendekap perut. Lantas mengecup anak seraya bertutur lembut,

"Bangun, Nak. Petang ini kita bisa makan"

Tutur kata yang teramat sederhana
Dengan hidup yang seadanya
Begitulah lelaki dan perempuan yang menjelma orang tua kerap terlupa.

Malang-Subuh, 28-10-2014


Ladang Kemandulan

Benih adalah sahabatmu ketika kakimu tercelup lumpur
Di ladang yang sama, kau berkarib dengan berbagai jenis hewan dan tumbuhan
Begitu pun mesin dan pupuk yang tiada alpa kau dengungkan

Kamu pun menghitung musim
Tak boleh melebihi kemarau
Tak boleh kurang dari penghujan
Begitu lah cuaca yang kau jadikan tumpuan
Harapmu, ladang harus berbuah & menguning

Bagaimana jika tidak?
Bukankah perut kami bergantung dari buah ladangmu?
Kudapati kamu tertunduk lesu
Sedang bibirmu bertutur malu;

"Negeri kita bergantung dengan buah ladang negeri orang, Nak. Tak usahlah kau khawatir kelaparan. Toh ladang-ladang kita sudah sempit dan di ambang kemandulan..."

Malang-Subuh, 29-10-2014

Oke itu dia guys artikel saya tentang "Kumpulan Puisi Hari Pahlawan 10 November Dari Kaskuser " semoga dapat bermanfaat bagi kalian semua jika nanti ada update lagi pasti akan saya update kok, jika ada kesalahan mohon untuk dimaafkan atau bisa kalian perbaiki dengan cara komentar tentang kesalahan artikel ini dibawah. Apabila artikel ini bermanfaat kalian dapat membagikannya ke media sosial atau ke Grup WA keluarga kalian Eh lagi error ya? Komen dong udah balik atau belum?, Terima kasih sudah berkunjung. 

Artikel Terkait