Permasalahan Kesehatan Mental di Indonesia

watch_later Selasa, 29 Oktober 2019

Assalamualaikum, halo teman-teman kembali lagi pada blog mashel.me, Kali ini saya ingin membahas mengenai hal kecil tentang kesehatan yang sering disepelekan oleh beberapa orang. Seringkali jika kita membicarakan mengenai kesehatan pasti akan menghubunkannya dengan fisik. Dan kalian harus tau bahwa kesehatan jiwa juga penting tidak hanya tentang kesehatan fisik saja. Gangguan kesehatan mental bisa terjadi oleh siapapun orang itu. Dalam data Riset Kesehatan Dasar 2013, terdapat 14 juta orang yang mengalami gejala depresi dan kecemasan pada umur 15 tahun keatas.

WHO menyebutkan juga bahwa generasi millennial saat ini lebih rentan terkena gangguan mental. Dalam menghadapi gejala depresi dan kecemasan banyak sekali persoalan yang mereka alami seperti upaya untuk lulus kuliah, mencari pekerjaan, atau sampai menyicil sepeda motor, rumah atau mobil misalnya.

Teknologi memiliki peran yang sangat tinggi dalam permasalahan kesehatan mental di Indonesia. Salah satu penyebabnya yaitu media sosial. Media sosial seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tak seindah dengan kenyataan. Hal ini menciptakan tekanan dan beban pikiran pada anak muda, Untuk informasi saja penyebab gangguan mental yang mungkin perlu anda ketahui adalah:

Faktor biologis (atau disebut gangguan mental organik)
  • Gangguan pada fungsi sel saraf di otak.
  • Infeksi, misalnya akibat bakteri Streptococcus.
  • Kelainan bawaan atau cedera pada otak.
  • Kerusakan otak akibat terbentur atau kecelakaan.
  • Kekurangan oksigen pada otak bayi saat proses persalinan.
  • Memiliki orang tua atau keluarga penderita gangguan mental.
  • Penyalahgunaan NAPZA dalam jangka panjang.
  • Kekurangan nutrisi.


Faktor psikologis
  • Peristiwa traumatik, seperti kekerasan dan pelecehan seksual.
  • Kehilangan orang tua atau disia-siakan di masa kecil.
  • Kurang mampu bergaul dengan orang lain.
  • Perceraian atau ditinggal mati oleh pasangan.
  • Perasaan rendah diri, tidak mampu, marah, atau kesepian.

Gangguan mental tidak bisa disamakan dengan penyakit fisik. Di Indonesia jumlah penderita gangguan mental tidak sedikit. Setengah dari penyakit mental bermula pada usia remaja yakni sekitar usia 14 tahun. WHO menyebutkan bahwa banyak kasus yang tidak teratasi sehingga bunuh diri akibat deperesi menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun.

Jika dilihat pada data kita bandingkan Indonesia dengan negara-negara lain, Indonesia patut berbangga. Karena tingkat stress masyarakat Indonesia ternyata tidak setinggi negara lain. Gangguan mental bisa dimulai dari stress yang diabaikan, Berikut merupakan gejala gangguan mental yang bersumber dari alodokter.com:


  • ·       Waham atau delusi, yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
  • Halusinasi, yaitu sensasi ketika seseorang melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.
  • Suasana hati yang berubah-ubah dalam periode-periode tertentu.
  • Perasaan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
  • Perasaan cemas dan takut yang berlebihan dan terus menerus, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Gangguan makan misalnya merasa takut berat badan bertambah, cenderung memuntahkan makanan, atau makan dalam jumlah banyak.
  • Perubahan pada pola tidur, seperti mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, serta gangguan pernapasan dan kaki gelisah saat tidur.
  • Kecanduan nikotin dan alkohol, serta penyalahgunaan NAPZA.
  • Marah berlebihan sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan.
  • Perilaku yang tidak wajar, seperti teriak-teriak tidak jelas, berbicara dan tertawa sendiri, serta keluar rumah dalam kondisi telanjang.

Cigna pada tahun 2008 melakukan survei, mayoritas orang Indonesia mengaku lebih memilih mengatasi stress secara mandiri. Hal tersebut dilakukan dengan cara mencurahkan keluhan kepada teman atau keluarga, tidur, olahraga, belanja, dan liburan.

Hanya sebagian kecil dari responden yang ingin meminta bantuan tenaga professional (psikolog dan psikiater) untuk membantu mengatasi stress. Alasannya antara lain kembali lagi yaitu masalah ekonomi, Mereka berpikiran jika kita mengunjungi psikolog dan psikiater maka akan menghabiskan biaya yang banyak.

Biaya kesehatan memang seringkali dianggap sesuatu yang begitu mahal padahal itu sangatlah layak jika yang didapatkan adalah sehat. Tetapi sekarang tidak perlu memikirkan mengenai biaya lagi karena jika kalian memiliki asuransi kesehatan maka tidak perlu pusing tentang biaya, apalagi biaya premi yang sudah tidak selalu mahal.

Asuransi kesehatan dengan premi terjangkau yang cocok untuk anak muda. Yaitu dinamakan Cigna Health Protection, produk dari Cigna ini menyediakan perlindungan kesehatan mulai dari Rp 36.000 perbulan bagi anak yang berusia 18-29 tahun.

Cigna Health Protection juga menyediakan pengembalian premi sebesar 25% dari total pembayaran premi, apabila tidak ada klaim dalam waktu dua tahun. Selain itu, Anda tidak perlu menjalani pemeriksaan kesehatan saat pendaftaran.

Sudah saatnya generasi muda lebih peduli pada kesehatan fisik maupun mental. Biaya mahal bukan alasan. Miliki asuransi kesehatan murah dengan premi terjangkau sekarang dan dapatkan potongan 10% untuk pembayaran premi tahunan Cigna Health Protection.

Mungkin sekian artikel yang bisa saya tulis kali ini mengenai kesehatan mental yang ada di Indonesia apabila ada yang salah mohon untuk dimaafkan atau jika ada yang ingin ditanyakan silahkan berkomentar ya, Terima kasih sudah berkunjung.

Artikel Terkait